Sudah bulan Desember lagi, tidak terasa sudah di penghujung tahun, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Musim pun sudah mulai berganti, walaupun tidak seperti tahun sebelumnya, Desember ini terasa sangat menyengat, panas dan kering, mungkin karena hujan yang turun masih tertahan oleh kekuatan pawang hujan yang tidak ingin Sidoarjo tenggelam karena lumpur Lapindo.
Natal sebentar lagi, suasana di sekitar terlihat mulai sibuk mempersiapkan datangnya hari raya umat Kristiani. Dekorasi di mall pun sudah mulai berubah, dominan warna merah dan hijau, pohon Natal pun sudah mulai dipajang, Santa Claus lengkap dengan rusa-rusa kutubnya mulai digantung, belum lagi lagu-lagu Natal yang dikumandangkan menambah semarak penyambutan Natal.
Tak ketinggalan, saya dan teman-teman pun mulai sibuk merencanakan acara Natal mulai dari bertukar kado, merayakan Natal bersama, gereja bersama dsb..dsb. Acara yang hampir setiap tahun selalu kami rancang dan hampir setiap tahun juga selalu gagal dilaksanakan. Agak menyayat hati memang, tapi ya memang SIKONTOLPANJANG sama sekali tidak mau berkompromi dan mendukung rencana kami (eits jangan ngeres dulu SIKONTOLPANJANG tuh singkatan dari SItuasi KONdisi TOLeransi PANdangan JANGkauan, P4 banget gak sih????). Akhirnya…semuanya pun sibuk dengan acara keluarga masing-masing.
Natal kali ini keluarga saya akan merayakan di Surabaya, kota yang menjadi pilihan terakhir orangtua saya untuk menetap selamanya, walaupun mereka masih bertugas di kota lain. Minggu ke-2 bulan Desember mama saya sudah datang ke Surabaya, sibuk mempersiapkan Natal, membuat kue kering, lapis legit dan kue-kue yang lain, memasang pohon Natal, merangkai ulang bunga-bunga dan mendekorasi rumah. Tidak sia-sia, setidaknya rumah ini terlihat berdandan menyambut Natal.
Ditengah gegap gempita euphoria menyambut Natal, tetap saja terasa ada sesuatu yang hilang dan selalu mengganggu. Perasaan campur aduk dan selalu berganti menjelang Natal. Hari ini senang, besok sedih, lusa hampa, tula entah apa lagi yang akan saya rasakan, “PMS kali ya” suara-suara mulai sahut-menyahut di pikiranku, “Atau kamu aja yang memang moody” terdengar lagi suara yang lain, “Atau jangan-jangan lagi kangen ehm…ehm….” suara lain menimpali. Yah….. kalo kangen, masuk akal juga sih, tapi kangen sama siapa, soalnya banyak sih yang dikangenin hehehehehe
.
Kangen sama yang di Jakarta? Kangen sama yang di Semarang? Kangen sama yang di Kaltim? Kangen sama yang di Mataram? Iya sih, tapi…. kangennya beda, kalau yang disebut di atas, kangennya bisa diatasi dengan sms, telepon, email, bahkan bertemu langsung, kalo yang ini nih beda banget. Natal terasa tidak lengkap lagi karena ketidakhadirannya. Akhirnya saya tahu siapa yang benar-benar merampas perasaan saya belakangan ini.
Seseorang yang selalu menatap saya dengan pandangan tajam (yang menurut survey tatapannya menurun pada saya), selalu memijat saya dengan teknik acupressure apabila keluhan pusing itu mulai menyerang atau bercerita tentang apa saja yang ingin saya ketahui, yang selalu menasehati bila saya sedang bertengkar atau sedang tidak enak hati, yang selalu memarahi saya apabila tidak menuruti nasehatnya, yang selalu……yang selalu……*speechless* Dia yang berjanji akan melihat wisuda saya, penggelaran saya, atau bahkan momen-momen indah dalam hidup saya sudah pergi 5 tahun yang lalu…..
Kepergianmu terasa sangat berat untuk kami semua, terutama oma dan saya. Kami terbaring sakit, oma flu berkepanjangan dan saya bahkan tidak masuk kuliah hampir 2 minggu karena diare, penyakit yang selalu menghampiri saya apabila kondisi psikologis (takut, sedih, cemas) menyerang. Rasanya tidak mungkin percaya atas apa yang terjadi, karena kondisi terakhirmu terlihat semakin membaik, kepada Tuhan kubawa complainku, menganggapNya tidak adil atas apa yang terjadi. Hampir 1 tahun saya berunjuk rasa dan pasang aksi tutup mulut, bermusuhan dengan sang Pencipta, tapi akhirnya saya tersadar. Oh God, please forgive me, tidak seharusnya menyalahkanMu atas kuasa yang bukan hakku untuk merubahnya karena kutahu rancanganMu bukanlah rancangan kecelakaan melainkan rancangan damai sejahtera untuk memberi masa depan penuh harapan……Peace ya God, no hurt feeling lho!!!!!
Dan setiap Natal tiba, kenangan tentang dia selalu muncul kembali. Terbayang Natal terakhir bersamanya, rumah rasanya penuh sesak, penuh gelak tawa 35 orang, dia, oma, papa, mama, tante-tante, om-om, adik, sepupu-sepupu semuanya lengkap, bertukar kado, menyalakan lilin Natal, berdoa bersama memohon kesembuhannya. Walau kenyataan berkata lain tapi mungkin itu yang terbaik buat kita semua. Natal terakhir bersamanya merupakan Natal terindah didalam kenangan terindah yang selalu terpatri selamanya…….
9:52 PM 12/16/2006
oi oi siapa dia? let me guess… bekas pacarna oma?
well keep the good memory of dia aja..
coz that way dia akan selalu bersamamu.
baru baca blog mu neh… yah kalo aku kenangan terindah nya pas bulan april… persis di hari paskah… hiks…
btw check out my blog ok… dindadimana.wordpress.com
hatur tengkyu… Gbu!
salam kenal ya
mampir juga di blog ku di helvry.multiply.com